Upaya Mempertahankan Terkendala Dana


Seluruh civitas academica Universitas Winayamukti (Unwim) menyatukan hati untuk mempertahankan eksistensi Unwim. Pernyataan sikap tersebut mereka sampaikan dalam dialog terbuka “Revitalisasi & Eksistensi Universitas Winayamukti sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Milik Pemerintah Povinsi Jawa Barat” di Gedung Serba Guna Unwim Jatinangor, Sabtu (24/5).

Pertemuan tersebut dihadiri stakeholders Unwim, mulai dari Yayasan Winayamukti, rektorat, dekan setiap fakultas, alumni, dan mahasiswa. Setelah melakukan diskusi selama kurang lebih lima jam, mereka sepakat untuk menolak rencana Pemprov Jabar yang akan mengintegrasikan Unwim ke dalam program ITB Multikampus.

Secara resmi, seluruh civitas academica Unwim mengeluarkan tiga sikap utama dalam menanggapi rencana pengintegrasian Unwim dengan ITB. Mereka menuntut adanya kepastian sikap dari pemprov sebagai pemilik Unwim agar menyatukan tindakan untuk mempertahankan dan mengendalikan Unwim, serta tetap melaksanakan penerimaan mahasiswa baru (PMB) 2008.

Sebagai langkah lanjutan dari diskusi tersebut, Unwim juga akan melakukan pematangan konsep serta audiensi dengan pemprov. Dalam hal ini yang akan ditemui adalah Sekretaris Daerah Jabar sebagai pembina Yayasan Winayamukti dan Bapeda Jabar sebagai pengembang aset daerah.

Selain itu, rektorat juga akan berusaha melakukan dialog dengan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf. Dari fakultas, wujud resistensi integrasi Unwim-ITB diawali dengan tetap akan melaksanakan penerimaan mahasiswa baru 2008. “Fahutan bahkan sudah lebih dahulu menerima mahasiswa baru untuk kelas karyawan,” kata Dekan Fakultas Kehutanan Unwim, Pujo Hutomo, S.Hut., M.Si.

Alumni dan mahasiswa pun tidak luput ikut berpartisipasi dalam mempertahankan esksistensi almamaternya. Rencananya, para alumni akan meminta pemprov segera mencabut SK penghentian PMB Unwim 2008. “Kami akan membantu rektorat dan yayasan untuk menekan pemprov agar mencabut SK tersebut,” kata Heru, seorang alumnus Fakultas Kehutanan.

Rencana alumni tersebut juga akan didukung seluruh mahasiswa Unwim dari semua fakultas. Perwakilan mahasiswa yang hadir akan segera mengonsolidasikan hal ini kepada mahasiswa lain yang tidak bisa hadir dalam diskusi.

Benahi diri

Dalam kesempatan itu, Ketua Pelaksana Yayasan Winaya Mukti, Dr. Ir. Musli Rosmali, M.P., menegaskan, Unwim masih bisa dipertahankan jika semua civitas academica menyatukan hati untuk berjuang bersama membela nasib dan status mereka.

Meski demikian, Musli menegaskan bahwa argumen yang akan disampaikan pemprov harus kuat. Artinya, Unwim sendiri harus segera berbenah untuk menjadi lebih baik. “Kurang baiknya kinerja pengurus Unwim saat ini, kemungkinan menjadi alasan utama kebijakan pemprov untuk mengintegrasikan Unwim dengan ITB,” kata Musli.

Selama ini, kata Musli, yayasan tidak bisa berbuat banyak untuk Unwim karena setiap keputusan harus sepengetahuan pemprov sebagai pembina yayasan. “Dengan bersatunya yayasan seluruh bagian Unwim dari rektorat sampai mahasiswa, suara kita akan lebih didengar,” ujar Musli melanjutkan.

Musli menilai, sebenarnya kebijakan yang dikeluarkan pemprov untuk mengintegrasikan Unwim dengan ITB sangat wajar. Betapa tidak, tahun ini saja pemprov harus mengeluarkan dana sekitar Rp 5 miliar guna menutupi defisit anggaran Unwim. Padahal, seharusnya pemprov tidak lagi mengeluarkan dana untuk itu. “Dalam Permendagri No. 13/2006 disebutkan bahwa pemprov tidak boleh menyubsidi yayasan,” ujar Musli.

Untuk itu, Musli mengajak semua pihak terkait untuk berbenah diri agar dapat mempertahankan eksistensi Unwim. Hal ini sesuai dengan rencana revitalisasi Unwim 2006-2010, agar eksistensi Unwim tetap dijaga. Sebagai konsekuensinya, Unwim harus melakukan rasionalisasi dosen dan pegawai, serta mengadakan upaya efisiensi infrastruktur, sarana, dan prasarana pendidikan.

Menurut Musli, rencana revitaliasi tersebut belum berjalan dengan baik. Hal itu ditunjukkan dengan membengkaknya gaji pegawai Unwim yang semula Rp 250 juta pada 2005, sekarang menjadi Rp 350 juta. Nilai itu merupakan 70 persen dari anggaran belanja dan pendapatan Unwim (APBU). Sementara itu, pendapatan 2007 tidak mampu menutupinya. Pada akhirnya APBU mengalami defisit sampai Rp 7,5 miliar.

Defisit seperti itu, ujar Musli, tidak boleh terjadi lagi jika Unwim ingin tetap eksis. “Jika ingin bertahan, jangan biarkan pemprov menanggung defisit tersebut.” Untuk itu, Musli menegaskan bahwa harus ada kerja sama yang kuat antara Unwim dan Yayasan Winaya Mukti agar bisa mandiri dalam pendanaan. (Wilujeng Kharisma/Handri Handriansyah) ***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: