Masa Kejayaan, Sebuah Kenangan

KAMPUS “Bojong Seungit” Tanjungsari memiliki sejarah sangat panjang karena didirikan sejak zaman Belanda. Pendiriannya merupakan prakarsa Bupati Sumedang saat itu, Raden Suriaatmadja, yang sangat memerhatikan dunia pertanian sebagai usaha masyarakat yang melekat dengan kultur daerahnya.

Pada 1914, Raden Suriaatmadja menghibahkan lahan 23 hektare di Kecamatan Tanjungsari untuk didirikan Landbouw Bedrijft School (LBS/Sekolah Pertanian Rakyat). Tujuannya, memberikan kesempatan kepada anak-anak petani mendalami dan mengembangkan ilmu dan usaha pertanian daerahnya.

Kepala LBS pertama adalah Raden Sadikin yang merupakan ayah dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Almarhum Ali Sadikin. Pada tahun-tahun awal, murid LBS umumnya berasal dari Sumedang dan sekitarnya dengan jumlah puluhan orang saja.

Keterlibatan pemerintah atas kampus “Bojong Seungit” mulai dilakukan tahun 1960, di mana Pemda Jabar kemudian menangani LBS dan namanya diubah menjadi Sekolah Pembangunan Pertanian-Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPP-SPMA) Tanjungsari. Sejak saat itu, jumlah muridnya berdatangan dari berbagai pelosok Jabar. Perkembangan berikutnya, SPP-SPMA Tanjungsari kemudian menjadi induk berbagai sekolah sejenis di Jabar.

Karena perkembangan kemudian, kampus “Bojongseungit” dikembangkan untuk tingkat perguruan tinggi, di samping SPP-SPMA yang tetap eksis sampai kini. Pada 1965, Pemprov Jabar mendirikan Akademi Pertanian Tanjungsari (APT), lalu tahun 1986 ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Pertanian Tanjungsari (STPT).

Pada 1986, pengurus Korpri Pemprov Jabar membentuk Yayasan Pendidikan Tinggi Winaya Mukti. Langkah ini kemudian dilanjutkan pada 1990, di mana STPT digabung dengan tiga sekolah tinggi/akademi lain menjadi satu induk di bawah Universitas Winaya Mukti.

Tahun-tahun “keemasan” kampus Perguruan Tinggi Tanjungsari dialami pada 1965 sampai awal 1990-an. Jumlah mahasiswanya memuncak pada angkatan 1988-1992, di mana tiga jurusan, S-1 Budi daya, S-1 Sosial Ekonomi Pertanian, dan D-3 Budi daya, memperoleh mahasiswa rata-rata total 200-300 orang per tahun.

Keberadaan kampus pertanian Tanjungsari bukan hanya sekedar lembaga pendidikan, namun juga berdirinya sejumlah bangunan tua. Di antaranya, sebuah gudang pertanian yang msih asli buatan tahun 1914, Museum Tani R. Soejoed, dll. (Kodar S./”PR”)***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: