Arsip untuk unwim

Unwim-ITB Sudah Tahap Akhir

Posted in info with tags , , , on Oktober 24, 2008 by ajawijaya

BANDUNG, (PR).-
Pembahasan kerja sama Universitas Winaya Mukti (Unwim) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah sampai pada tahapan penyelesaian akhir. Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Jawa Barat menargetkan pembahasan rencana tersebut selesai akhir Oktober sehingga dapat memberi lebih banyak waktu kepada ITB untuk mempersiapkan sistem pendidikan di kampus Unwim. Demikian diungkapkan Kepala Bapeda Jabar Deny Juanda yang dihubungi “PR” melalui telefon, Kamis (4/9).

Baca lebih lanjut

Unwim tidak Mungkin Dibubarkan

Posted in info with tags , , , , , , on Agustus 19, 2008 by ajawijaya

BANDUNG, (PR).-
Universitas Winaya Mukti (Unwim) tidak mungkin dibubarkan karena kampus tersebut dibangun Pemprov Jawa Barat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Jabar. Dari tiga opsi yang diberikan, yaitu dibubarkan, diteruskan, atau dikerjasamakan dengan perguruan tinggi (PT) lain, opsi yang ketiga adalah solusi tepat untuk menyelesaikan masalah Unwim. Baca lebih lanjut

Repotnya Unwim tanpa Bantuan

Posted in info with tags , , , , , on Juni 4, 2008 by ajawijaya

Rektor Unwim Dr. Ir. H. Endang Sufiadi, M.S.

Penolakan integrasi Universitas Winaya Mukti (Unwim) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai bergejolak di kalangan mahasiswa, alumni, pegawai administrasi, dan dosen perguruan tinggi swasta milik Pemprov Jabar itu. Hal ini membuat Rektor Unwim Dr. Ir. H. Endang Sufiadi, M.S. cukup kebingungan.

Sebagai seorang alumnus, hati Endang mendukung penuh keinginan seluruh civitas academica Unwim untuk tetap mempertahankan eksistensi kampus mereka. Namun, di sisi lain, Endang mengakui betapa sulitnya Unwim untuk dapat berdiri sendiri tanpa bantuan pemprov. Berikut petikan wawancara “PR” dengan Endang di kantornya, gedung Rektorat Unwim, Jatinangor, Kamis (29/5).

Sebenarnya masalah utama yang dihadapi Unwim sekarang ini seperti apa?

Awalnya, Unwim itu dibentuk dari empat perguruan tinggi milik Pemprov Jabar, yaitu Akademi Pertanian Tanjungsari (APT), Akademi Industri dan Niaga (AIN), Sekolah Tinggi Pertanian Tanjungsari (STPT), dan Akademi Teknik Pekerjaan Umum (ATPU). Keempat perguruan tinggi yang bentuknya masih kedinasan tersebut dibangun atas prakarsa Gubernur Jabar saat itu, Mashudi.

Pak Mashudi mempunyai misi untuk menunjang manajemen sumber daya manusia (MSDM) di Jabar. Untuk itu, Pemprov Jabar waktu itu masih sepenuhnya membiayai keempat perguruan tinggi tersebut. Namun, dengan aturan yang ada pada tahun-tahun berikutnya, pemprov tidak lagi dibolehkan mengelola perguruan tinggi. Kemudian dibentuklah yayasan Tri Darma Yasa Pemprov Jabar untuk mengelola keempat perguruan tinggi itu. Namun, yayasan tersebut masih dibiayai oleh pemprov sampai terbentuknya Yayasan Winaya Mukti dan Unwim.

  Baca lebih lanjut

“Unwim Tetap Exist…! Unwim Nu Aing…!”

Posted in info with tags , , , , on Juni 4, 2008 by ajawijaya

Demikian sepenggal kalimat yang tertera pada spanduk yang terbentang di salah satu sudut kampus Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti (Faperta Unwim) Tanjungsari, Sumedang. Spanduk yang dipasang sejak beberapa minggu lalu itu, berisi tanda tangan dan pernyataan sikap mahasiswa, dosen, dan dekanat Faperta Unwim.

Di beberapa sudut lain kampus Faperta Unwim juga terpampang leaflet dan poster serupa. Semua berisikan kesepahaman mahasiswa, dosen, dan dekanat Faperta Unwim untuk menolak rencana pemprov yang akan mengitegrasikan Unwim dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Simpang siur seputar wacana itu tentunya menimbulkan kegelisahan di kalangan Baca lebih lanjut

Universitas Winaya Mukti “Dijual”?

Posted in info with tags , , , , , on Juni 4, 2008 by ajawijaya

GEDUNG Rektorat Universitas Winaya Mukti (Unwim) di Jatinangor Kab. Sumedang. Akibat minimnya peminat, mulai tahun ajaran 2008/2009, diinstruksikan tidak menerima mahasiswa baru. Sementara itu, civitas academica Unwim menuntut adanya kepastian sikap dari pemprov sebagai pemilik Unwim agar mempertahankan dan mengendalikan Unwim, serta tetap melaksanakan penerimaan mahasiswa baru (PMB) 2008.* ADE BAYU INDRA

Mulai tahun ajaran 2008/2009, Universitas Winaya Mukti (Unwim) diinstruksikan tidak menerima mahasiswa baru. Baca lebih lanjut

Masa Kejayaan, Sebuah Kenangan

Posted in info with tags , , on Juni 4, 2008 by ajawijaya

KAMPUS “Bojong Seungit” Tanjungsari memiliki sejarah sangat panjang karena didirikan sejak zaman Belanda. Pendiriannya merupakan prakarsa Bupati Sumedang saat itu, Raden Suriaatmadja, yang sangat memerhatikan dunia pertanian sebagai usaha masyarakat yang melekat dengan kultur daerahnya.

Pada 1914, Raden Suriaatmadja menghibahkan lahan 23 hektare di Kecamatan Tanjungsari untuk didirikan Landbouw Bedrijft School (LBS/Sekolah Pertanian Rakyat). Tujuannya, memberikan kesempatan kepada anak-anak petani mendalami dan mengembangkan ilmu dan usaha pertanian daerahnya.

Kepala LBS pertama adalah Raden Sadikin yang merupakan ayah dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Almarhum Ali Sadikin. Pada tahun-tahun awal, murid LBS umumnya berasal dari Sumedang dan sekitarnya dengan jumlah puluhan orang saja.

Keterlibatan pemerintah atas kampus “Bojong Seungit” mulai dilakukan tahun 1960, di mana Pemda Jabar kemudian menangani LBS dan namanya diubah menjadi Sekolah Pembangunan Pertanian-Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPP-SPMA) Tanjungsari. Sejak saat itu, jumlah muridnya berdatangan dari berbagai pelosok Jabar. Perkembangan berikutnya, SPP-SPMA Tanjungsari kemudian menjadi induk berbagai sekolah sejenis di Jabar.

Karena perkembangan kemudian, kampus “Bojongseungit” dikembangkan untuk tingkat perguruan tinggi, di samping SPP-SPMA yang tetap eksis sampai kini. Pada 1965, Pemprov Jabar mendirikan Akademi Pertanian Tanjungsari (APT), lalu tahun 1986 ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Pertanian Tanjungsari (STPT).

Pada 1986, pengurus Korpri Pemprov Jabar membentuk Yayasan Pendidikan Tinggi Winaya Mukti. Langkah ini kemudian dilanjutkan pada 1990, di mana STPT digabung dengan tiga sekolah tinggi/akademi lain menjadi satu induk di bawah Universitas Winaya Mukti.

Tahun-tahun “keemasan” kampus Perguruan Tinggi Tanjungsari dialami pada 1965 sampai awal 1990-an. Jumlah mahasiswanya memuncak pada angkatan 1988-1992, di mana tiga jurusan, S-1 Budi daya, S-1 Sosial Ekonomi Pertanian, dan D-3 Budi daya, memperoleh mahasiswa rata-rata total 200-300 orang per tahun.

Keberadaan kampus pertanian Tanjungsari bukan hanya sekedar lembaga pendidikan, namun juga berdirinya sejumlah bangunan tua. Di antaranya, sebuah gudang pertanian yang msih asli buatan tahun 1914, Museum Tani R. Soejoed, dll. (Kodar S./”PR”)***

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.